Sejarah Candi Budha di Borobudur

Pendidikan —Jumat, 18 Nov 2022 10:58
    Bagikan  
Sejarah Candi Budha di Borobudur
Pinterest

DepostJogja,- Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.

Sejarah Candi Borobudur
Berbicara tentang sejarah, asal-usul Candi Borobudur memiliki kisah yang panjang. Candi ini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia sekaligus tempat suci bagi umat Buddha. Selain untuk wisata, candi terbesar di dunia itu merupakan tempat ibadah sekaligus ziarah bagi umat Buddha. Dihimpun dari berbagai sumber, Minggu (5/6/2022), Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada abad kedelapan sampai sembilan, atau sekitar 800 tahun sebelum Masehi oleh Dinasti Syailendra, penganut Buddha aliran Mahayana.

Mengutip jurnal Pesona Candi Borobudur Sebagai Wisata Budaya Di Jawa Tengah karya Reza Ayu Dewanti, candi ini dibangun untuk memuliakan raja-raja Syailendra (775-850 M) yang telah bersatu kembali dengan dewa yang menjadi asal beliau.
Proses pembangunan memakan waktu hingga ratusan tahun dan baru selesai pada masa kekuasaan Raja Samaratungga, 825 Masehi. Dari skripsi berjudul Relasi Makna Simbol Candi Borobudur Dengan Ajaran Buddha, pembuat candi Borobudur bernama Gunadarma. Candi ini dibangun dalam lima tahapan.

Baca juga: Area Larangan Berbahaya Bagi Pelintasan Pesawat, Simak!

Catatan sejarah, Candi Borobudur melambangkan alam semesta. Dalam agama Buddha, semesta dibagi menjadi tiga tingkat yaitu kamadhatu (dunia keinginan), rupadhatu (dunia berbentuk) dan arupadhatu (dunia tak terbentuk).
Ketiga tingkat ini dibedakan berdasarkan relief-relief candi. Relief ini dibentangkan sepanjang 3 meter. Terdapat 1.460 pigura yang diselingi bidang-bidang pemisah berjumlah sekitar 1.212 buah.

Di atas deretan pigura terdapat semacam pelipit yang membujur, memanjang sejauh satu setengah kilometer. Pelipit ini dihias dan membentuk rangkaian bunga teratai. Di bagian tas terdapat hiasan simbar berbentuk segitiga berjumlah 1.476 buah. Tingkat kamadhatu dan rupadhatu terdapat 1.472 stupa dan 432 arca Buddha yang mengitari seluruh penjuru mata angin. Pada tingkat terakhir terdapat 72 buah stupa yang melingkari stupa induk di puncak. Dibutuhkan sekitar dua juta potongan batu untuk membangun monumen ini. (RA)

Baca juga: Resep Ayam Betutu Khas Pulau Dewata

Editor: Ririn
    Bagikan  

Berita Terkait